PPKn · Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika: Makna, Sejarah & Penerapan dalam Kehidupan

11 Agustus 2026 Pasha 8 menit baca
Bhinneka Tunggal Ika: Makna, Sejarah & Penerapan dalam Kehidupan
Foto: Pexels

Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia dihuni ratusan suku dengan bahasa, agama, dan adat yang berbeda. Namun semua tetap satu: Indonesia. Inilah makna semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika.

Semboyan ini tertulis pada pita yang dicengkeram Garuda Pancasila dan menjadi salah satu pilar identitas bangsa.

Arti Bhinneka Tunggal IkaBhinneka = beragam, tunggal = satu, ika = itu.
Artinya: "Berbeda-beda tetapi tetap satu jua".

Sejarah Semboyan

Kalimat ini berasal dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-14). Kutipan lengkapnya: "Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa" — berbeda-beda tetapi tetap satu, sebab tidak ada kebenaran yang mendua.

Konteks kitab Sutasoma: mengajarkan toleransi antara pemeluk agama Hindu dan Buddha di Majapahit — dua agama yang hidup berdampingan secara damai.

Makna Bhinneka Tunggal Ika

  • Keberagaman adalah kekayaan, bukan perpecahan
  • Perbedaan suku, agama, dan budaya tetap dalam satu kesatuan bangsa
  • Saling menghormati dan menghargai antar sesama
  • Persatuan dibangun di atas toleransi dan gotong royong
  • Menjadi dasar semboyan resmi negara dalam lambang Garuda Pancasila

Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

  • Menghormati teman yang berbeda agama saat beribadah
  • Menghargai makanan, pakaian adat, dan kebiasaan daerah lain
  • Tidak mengejek logat atau bahasa daerah teman
  • Bergotong royong membersihkan kelas tanpa membedakan suku
  • Menggunakan bahasa Indonesia yang baik sebagai bahasa pemersatu

Tantangan Menjaga Persatuan

Di era digital, persatuan sering diuji oleh hoaks, ujaran kebencian, dan SARA yang menyebar cepat di media sosial. Tantangan lainnya: kesenjangan ekonomi dan sikap primordialisme berlebihan.

Kesimpulan

Bhinneka Tunggal Ika adalah komitmen bangsa: bersatu dalam keberagaman. Warisan Mpu Tantular dari abad ke-14 ini tetap relevan sampai sekarang. Mulailah dari hal kecil — menghargai perbedaan di sekitarmu adalah wujud nyata semboyan ini.

Aksi NyataSetiap 28 Oktober, kita memperingati Sumpah Pemuda yang menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Jadikan peringatan itu pengingat untuk terus merawat persatuan, bukan hanya di hari-hari besar.