Peristiwa Bandung Lautan Api: Sejarah, Kronologi & Tokohnya
Pada malam 23–24 Maret 1946, kota Bandung sengaja dibumihanguskan oleh rakyatnya sendiri. Asap membumbung tinggi, api menjilat rumah-rumah, dan langit kota menjadi merah menyala. Peristiwa ini dikenang sebagai Bandung Lautan Api.
Mengapa rakyat membakar kota sendiri? Karena mereka memilih mengorbankan harta benda daripada menyerahkannya kepada musuh. Ini simbol pengorbanan terbesar dalam perjuangan kemerdekaan.
Ultimatum Sekutu
Pada 21 Maret 1946, Sekutu mengeluarkan ultimatum: seluruh rakyat dan pejuang harus meninggalkan Bandung bagian selatan sebelum 23 Maret pukul 24.00. Jika tidak, Bandung akan dihancurkan.
Musyawarah Para Pejuang
Para pemimpin pejuang bermusyawarah. Keputusan berat pun diambil: Bandung akan dibumihanguskan — tidak ada yang boleh dimanfaatkan musuh. Rakyat rela mengungsi dan membakar rumah serta fasilitas mereka sendiri.
Kronologi Peristiwa
- Malam 23 Maret 1946, pemimpin daerah mengumumkan pengosongan Bandung
- Rakyat berbondong-bondong meninggalkan kota sambil membawa barang seadanya
- Api mulai membakar rumah-rumah dan gedung-gedung
- Pejuang memotong jalur listrik dan membumihanguskan fasilitas penting
- Kota Bandung berubah menjadi lautan api sepanjang malam
Tokoh-Tokoh Bandung Lautan Api
- Mohammad Toha: pejuang yang gugur saat meledakkan gudang mesiu musuh
- Mohammad Ramdan: pejuang yang gugur bersama Mohammad Toha
- Kolonel A.H. Nasution: Komandan Divisi Siliwangi yang memimpin pertahanan
- Gubernur Suryadarma: salah satu tokoh yang mengomandoi pengosongan kota
- Koboi Maroko (pejuang cilik) dan para pemuda Bandung
Lagu Halo-Halo Bandung
Peristiwa ini mengilhami lagu "Halo-Halo Bandung" karya Ismail Marzuki — lagu kerinduan pada kota Bandung yang rela dibakar demi kemerdekaan. Lagu ini menjadi pengingat abadi pengorbanan para pejuang.
Kesimpulan
Bandung Lautan Api mengajarkan arti pengorbanan: lebih baik kehilangan harta daripada kehilangan kehormatan dan kemerdekaan. Semangat ini diabadikan dalam monumen dan lagu, agar generasi penerus tidak pernah melupakan jasa para pahlawan.